DO-MU BUKAN DO-KU

DO-MU BUKAN DO-KU.

Hadir di majelis ilmu itu wajib. Tapi anehnya, banyak orang yang tidak melakukannya. Saya begitu merasakan kondisi yang menyenangkan dan mengasyikkan saat bisa menghadiri majelis berbagi itu. Baik kondisi formal maupun non formal.

Zaman now, saya punya pandangan sendiri terkait majelis ilmu ini. Secara sudut persoanal, orang yang melakukan aktivitas bermesraan dengan majelis ilmu itu bisa secara komunitas dan juga jalur mandiri. Kedua pola itu, saat ini fasilitasnya sudah terbuka bebas. Suka-suka kita, mau memilih yang mana terkait pola, tempat dan media yang digunakan. Artinya, zaman now harusnya tidak ada lagi orang yang tidak belajar untuk mencari ilmu. Bukan menuntut ilmu loh! Ilmu kok dituntut ya? Ada-ada aja euy… hahaha….

Bicara majelis ilmu ini, kemarin saya berkesempatan mengikuti sesi paparan seminar proposal tesis teman seminat (Kesehatan Lingkungan) di Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta. Bada sholat jumat, saya menikmati jalannya uraian dan sesi tanya jawab antara penyaji dan dosen penguji tersebut.

“Kuman itu asal katanya dari bahasa Belanda. Kuman itu nama umum untuk menyebutkan mikroorganisme, bisa bakteri, virus, jamur, dan yang lainnya. Jadi, angka kuman itu yang dimaksud dalam penelitian saudara itu yang mana?” Tanya dosen penguji laki-laki itu.

Menerima pertanyaan dari sang dosen penguji laki-laki itu, sang mahasiswa penyaji itu sedikit bingung dan berpikir sejenak. “Kuman di sini, ya total angka kuman pak,” jawab sang mahasiswa penyaji itu.

Dialog itu, tidak ada yang salah. Saya hanya ingin melihat sisi lain terkait penggunaan kata-kata dalam sebuah tulisan. Apalagi, itu dalam sebuah penelitian. Baik skripsi, tesis, dan sejenisnya. Tentu, perlu dibuat sebuah definisi operasional  (DO) dari kata-kata yang penting dalam naskah tulisan penelitian itu. Sebab DO-mu (bisa jadi) berbeda dengan DO-ku yang menyebabkan salah persepsi dan tafsir. Ujung-ujungnya tentu akan berbahaya dalam memaknai ide tulisan yang kita sampaikan.

BACA JUGA:  Mengapa Manusia Sering Galau?

Kejadian salah persepsi dalam majelis ilmu teman saya di atas tidak akan terjadi, kalau saja teman saya itu sudah menuliskan uraian DO terkait kata-kata penting yang ada kemungkinannya memunculkan salah pengertian, persepsi, dan tafsir.

DO-MU BUKAN DO-KU. Lalu, sudahkah kita membuat DO dalam hidup ini?

Salam

Arda Dinata

| www.ArdaDinata.com: | Share, Reference & Education |
| Peneliti, penulis, dan motivator penulisan di media massa |

Blog: http://www.ardadinata.com/

FB: ARDA DINATA

Twitter: @ardadinata

Instagram: @arda.dinata

Telegram: ardadinata

admin

www.ArdaDinata.com adalah blog catatan dari seorang penulis merdeka, Arda Dinata yang dikelola secara profesional oleh Arda Publishing House.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!