Press "Enter" to skip to content

Citra Kepribadian Itu Menggerakkan Hati

Ilustrasi citra kepribadian itu harus kita bangun secara konsisten agar menghasilkan kepribadian yang terbaik. Kepribadian ini sangat penting bagi dasar menggapai kesuksesan seseorang (Sumber: unsplash.com/@hrustall).

“Orang ini telah muncul di hadapanku karena citra kepribadian yang ada pada diriku. Citra kepribadianku tidak menyapanya, ‘Apa kabar?’ atau ‘Bagaimana kabarmu?’ Citra kepribadianku menggerakkan hatinya tanpa menggunakan kata-kata. Jika dalam kenyataannya citra kepribadianku dapat menggerakkan kata-kata hingga bisa mengantarkannya ke suatu tempat, lalu apa yang aneh dari hal itu?” (Jalaluddin Rumi).

Oleh: Arda Dinata

Sudah sejak masa kuliah, saya membiasakan diri dan berkeyakinan bahwa kata-kata perintah itu akan kalah efektif dengan alam perbuatan yang nyata. Artinya, apa yang ingin kita rubah pada seseorang itu akan jauh lebih efektif bila diri kita telah melakukannya. Sehingga kalau pun kita mengungkapkannya lewat kata-kata, maka kata-kata yang kita ucapkan itu akan memiliki kekuatan dan mengandung makna mendalam. Perbuatan itu merupakan bahasa teladan.

Dari bahasa perbuatan itu, keberadaan kata-kata perintah dan saran apa pun untuk merubah kepada orang lain akan menemukan titik sentuh yang essensial menyentuh jiwa lawan bicara kita. Daya ungkitnya akan memiliki kekuatan yang nyata. Orang tidak akan membantah dan berdalih menyanggah terhadap hal yang diperintahkan atau disampaikan tersebut.

Sebagai contoh, ketika saya berusaha untuk menerapkan kebersihan dalam keluarga. Maka yang saya lakukan adalah saya langsung memberi contoh menyapu halaman rumah agar terlihat bersih secara rutin. Inilah pola pendidikan tanpa menyuruh, tapi memberi contoh. Begitu pun, saat saya mencoba menyebarkan virus menulis (menulis itu mudah). Pada konteks ini, saya merutinkan diri menulis dengan menghasilkan tulisan secara rutin. Sehingga orang tidak akan menyangkal bahwa menulis itu hanya soal membiasakan diri dan rutin menulis secara konsisten. Itu saja! Hasilnya Allah yang menentukan.

Yakinilah, kalau kebiasaan itu akan melahirkan kepribadian seseorang. Dan kepribadiaan itulah yang akan menggerakkan hati seseorang. Dalam hal ini, ada ungkapan indah dari Jalaluddin Rumi yang menggambarkan terkait hal ini, yaitu: “Orang ini telah muncul di hadapanku karena citra kepribadian yang ada pada diriku. Citra kepribadianku tidak menyapanya, ‘Apa kabar?’ atau ‘Bagaimana kabarmu?’ Citra kepribadianku menggerakkan hatinya tanpa menggunakan kata-kata. Jika dalam kenyataannya citra kepribadianku dapat menggerakkan kata-kata hingga bisa mengantarkannya ke suatu tempat, lalu apa yang aneh dari hal itu?”

Apa yang disampaikan Jalaluddin Rumi itu, saya kira dapat menjadi pegangan bagi siapapun yang berkeinginan untuk merubah dan memengaruhi orang lain. Sebab, apa lagi manusia itu pada dasarnya tidak suka “disuruh-suruh”. Jadi, mari kita berusaha semaksimal mungkin untuk membangun kepribadian yang baik dalam diri kita masing-masing. Lebih-lebih bagi para orangtua yang akan mendidik anak-anaknya. Saya sering menyebutnya dengan istilah, “Keteladaanan itu adalah bahasa tingkah laku.”Jadi, lakukan dulu sama diri kita, baru suruh (lewat kata-kata) kepada orang lain juga tidak masalah.

BACA JUGA:  Vaksin Hati Melumpuhkan Hati Yang Keras

Pada konteks ini, American Psychological Association (APA) mengungkapkan bahwa kepribadian itu mengacu pada perbedaan individu dalam pola karakteristik berpikir, merasa, dan berperilaku. Tepatnya, studi tentang kepribadian itu berfokus pada dua bidang yang luas. Pertama, memahami perbedaan individu dalam karakteristik kepribadian tertentu, seperti kemampuan bersosialisasi atau mudah tersinggung. Dan kedua, adalah memahami berbagai bagian dari seseorang bersatu secara keseluruhan.

Dengan kata lain, citra kepribadian itu harus kita bangun secara konsisten agar menghasilkan kepribadian yang terbaik. Kepribadian ini sangat penting bagi dasar menggapai kesuksesan seseorang. Bukankah, kepribadian itu merupakan keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan indivdu lain. Sehingga, saya tidak bisa membayangkan apa jadinya bila seseorang itu memiliki kepribadian negatif dalam kehidupan pergaulannya sehari-hari?

Akhirnya, mari kita bangun kepribadian itu sejak dini. Inilah bekal dalam membangun karakter pribadi seseorang. Pastinya, keberadaan karakter pribadi itulah yang kelak akan menggerakkan hati seseorang untuk simpati dan empati pada diri kita.

Bagaimana menurut pendapat teman-teman? Kalau artikel ini beranfaat silahkan di-share dan saya nantikan komentar serta masukkannya. Salam sukses berkah selalu. Aamiin.

Pendiri Majelis Inspirasi Al-Qur’an & Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!