Jalan Kebahagiaan Itu Ramadan

Jalan kebahagiaan, yaitu: “Kenyamanan jasad adalah dengan sedikit makan; kenyamanan jiwa adalah dengan sedikit dosa; kenyamanan hati adalah dengan sedikit keinginan; dan kenyamanan lisan adalah dengan sedikit berbicara.”

(Tsabit Qurrah)
Oleh: Arda Dinata

RAMADAN dalam Islam merupakan bulan penuh berkah dan magfirah dengan ‘segudang’ keistimewaan di dalamnya. Ia datang menghampiri umat Islam setahun sekali sebagai tanda kasih sayang dari Sang Khalik kepada umatnya.

Untuk itu, jangan sia-siakan Ramadan tahun ini. Nikmatilah dengan penuh suka cita dan langkah pasti untuk meraih kebahagiaan hidup. Sebab, Ramadan ini merupakan salah satu langkah dalam menapaki jalan kebahagiaan. Lagi pula, bukankah setiap kita mengharapkan jalan kebahagiaan dalam hidupnya?

Berkait dengan jalan kebahagiaan, Syaikh Syarbashi pernah berkata, “Semua manusia yang hidup di dunia ini berlomba-lomba mencari kebahagiaan dan ingin bisa meraihnya walaupun dengan harga yang tinggi.”

Jalan kebahagiaan itu, ternyata di mata orang-orang bodoh dan pendusta adalah dianggap sebagai lafaz yang tidak berhakikat dan merupakan khayalan fatamorgana yang tiada nyata. Sungguh ini adalah sesuatu yang kontradiksi dengan kenyataan bahwa Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu di dunia ini penuh dengan kebaikan, kenikmatan dan keberkahan. Lebih-lebih Allah telah menurunkan Alquran sebagai petunjuk hidup manusia agar tidak susah. “Kami tidak menurunkan Al-Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah” (QS. Thaha: 2).

Kenyataan berpikir model itulah, sesungguhnya awal penyebab terjadinya kegagalan menggapai kebahagiaan hidup. Untuk itu, sangat tepat bila setiap kita melakukan kontemplasi terhadap sikap hidup yang telah kita lakukan selama ini. Sebab, tanpa melakukan “penilaian” terhadap sikap hidup dirinya sendiri, maka jangan harap “kemulusan” kebahagiaan itu menghampiri kita.

Terkait dengan itu, seorang dokter Muslim, Tsabit Qurrah, memberikan perhatian melalui fatwa dan tipsnya yang dapat mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan. Beliau mengatakan, “Kenyamanan jasad adalah dengan sedikit makan; kenyamanan jiwa adalah dengan sedikit dosa; kenyamanan hati adalah dengan sedikit keinginan; dan kenyamanan lisan adalah dengan sedikit berbicara.”

Secara demikian, yang membuat seseorang dapat menapaki jalan kebahagiaan itu, kuncinya ada dalam perilaku dan sikap hidupnya sendiri. Yakni berupa bagaimana keyakinan kita memperlakukan jasad, jiwa, hati, dan lisannya itu secara benar. Dan di sini, kata kuncinya ada pada sikap “sedikit” terhadap makan, dosa, keinginan, dan berbicara.

Pertama, kebahagiaan jasad dengan sedikit makan.

Jasad ini seperti sebuah mesin dan bahan bakarnya adalah makanan. Artinya, kita hendaknya mempergunakan bahan bakar itu secara wajar, sebab jika berlebihan ia bisa lebih berbahaya daripada api. Begitu juga dengan jasad, bila tidak dikekang dari keinginan nafsunya, ia akan berbahaya bagi orang lain dan menghilangkan citra kemunisaannya. Hebatnya lagi, ia bisa lebih buas dari binatang yang cenderung membuat keonaran dan kerusakan.

Untuk itu, tidak berlebihan bila Lukman menasehati kepada anaknya tentang masalah perut (baca: makanan dalam perut). “Wahai anakku! Apabila perutmu penuh, tidurlah pikiranmu, bungkamlah kebijaksanaan dan lemah lunglailah seluruh anggota badan sehingga malas beribadah. Adapun orang yang suka menyedikitkan makan dan minum, hatinya akan jernih bening, Pikirannya terang, pandangannya tajam, syahwat nafsunya dapat dikalahkan dan jiwanya tertuntun dan terbimbing.”

A Group Member of:
Toko SosmedWWW.ARDADINATA.COMWWW.ARDADINATA.COMInSanitarianMIQRA INDONESIA

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!