Inspirasi

Cinta, Hati, dan Rasio

Cinta, hati, dan rasio. Tiga kata yang saling melengkapi dalam memerankan fungsi-fungsi kehidupan manusia. Untuk itu, mari kita maksimalkan dalam hidup keseharian.

“Cinta tidak akan bisa sirna hanya disebabkan ketidak mampuan pengungkapan. Sebab bagian utama dari cinta itu adalah hati, bukan rasio. Seorang anak kecil mencintai susu, dan susu menjadi makanannya. Meski demikian, dia tidak dapat menjelaskan apa susu itu sebenarnya. Meskipun jiwanya menghasratkan, mustahil dia mampu mengungkapkan dengan lisan kepuasan yang diperoleh dari meminum susu atau bagaimana dia menderita apabila dijauhkan dari susu.” (Jalaluddin Rumi).

Oleh: Arda Dinata

Cinta itu, ya cinta bukan tentang yang lain. Cinta punya dunianya sendiri. Cinta datang dan pergi pada hati tanpa pandang strata sosial dan aksesoris kehidupan manusia lainnya. Cinta hadir mengalahkan rasio manusia. Pokoknya, bila kehadirannya pada tempat yang tepat, cinta itu bikin damai. Ia menenangkan dan membuat nyaman hati seseorang.

Jujur, cinta itu hadir dalam kehidupan manusia, sejatinya adalah untuk menyehatkan hidup manusia. Sebagai bukti, seperti apa yang dikatakan Dr. Christopher Suhar, MD, seorang ahli jantung dan direktur Scipps Center for Integrative Medicine, seperti diliris scripps.org bahwa, “Jika Anda sedang jatuh cinta, Anda lebih tenang dan damai, yang berarti menurunkan tekanan darah. Cinta baik untuk kesehatan Anda. Tekanan darah merespon ketenangn dan kedamaian.”

Sebaliknya, keberadaan cinta bisa memiliki efek negatif terhadap manusia bila terjadi patah hati karena cinta. Sindrom patah hati ini termasuk gangguan medis yang sangat nyata. Seperti disampaikan Dr. Suhar, sindrom patah hati ini biasanya merupakan kondisi sementara di mana jantung akan tiba-tiba membesar dan sangat tidak efektif dalam memompa. Biasanya reversibel dan dapat menjadi normal setelah stres teratasi.

BACA JUGA:  Ekologi Manusia

Untuk itu, hadapi cinta dalam hidup itu dengan penuh cinta. Artinya, nikmati cinta itu secara wajar dan apa adanya tanpa rekayasa. Nikmati kehadiran cinta itu sesuai kata hati nurani. Hadapi cinta seperti kehadirannya yang tak mengenal logika. Jangan hidup terbelenggu dengan cinta yang membuat patah hati dan stres dalam hidup Anda.

Terkait cinta, hati, dan rasio ini, ada ungkapan dan perumpamaan yang bagus dari Jalaluddin Rumi, yaitu: “Cinta tidak akan bisa sirna hanya disebabkan ketidak mampuan pengungkapan. Sebab bagian utama dari cinta itu adalah hati, bukan rasio. Seorang anak kecil mencintai susu, dan susu menjadi makanannya. Meski demikian, dia tidak dapat menjelaskan apa susu itu sebenarnya. Meskipun jiwanya menghasratkan, mustahil dia mampu mengungkapkan dengan lisan kepuasan yang diperoleh dari meminum susu atau bagaimana dia menderita apabila dijauhkan dari susu.”

Jadi, cinta itu soal hati. Cinta itu bukan soal bagaimana mengungkapkannya. Buka juga, apakah cinta itu sesuai dan cocok dengan logika. Bukan, tapi lagi-lagi cinta itu soal hati. Atas dasar ini, maka yang harus kita tata dan benahi adalah komponen hati manusia yang sedang dilanda cinta tersebut.

Arda Dinata

*Arda Dinata, adalah Pendiri Majelis Inspirasi Al-Quran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia dan kolomnis tetap di Sanitarian Indonesia (http://insanitarian.com). Aktivitas hariannya sebagai peneliti, sanitarian, dan penanggungjawab Laboratorium Kesehatan Lingkungan, tinggal di Pangandaran.

One thought on “Cinta, Hati, dan Rasio

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!