Gentleman vs. Orang Picik: Di Balik Tirai Adab dan Kesan - www.ArdaDinata.com
Catatan HarianInspirasiMotivasiOpiniRenungan Hikmah

Gentleman vs. Orang Picik: Di Balik Tirai Adab dan Kesan

Gentleman vs. orang picik akan hadir dalam panggung kehidupan manusia.Kuncinya ada dalam bagaimana kita menyikapinya. Inilah di balik tirai adab dan kesan. Gentleman, tenang dan damai. Orang picik selalu emosional.

Oleh: Arda Dinata

Gentleman adalah seseorang yang tahu cara menanggalkan topinya, bahkan jika dia tidak punya sekalipun. Inilah perjalanan kita untuk memahami perbedaan antara seorang gentleman dan orang picik.

Meskipun mungkin terlihat sepele, namun esensi dari tindakan sehari-hari dapat menggambarkan karakter seseorang. Sebuah topi yang dilepas atau dilempar secara sembarangan bisa menjadi petunjuk kecil tentang sifat sejati seseorang.

Kehidupan ini telah memberi banyak pelajaran buat mereka yang mau berpikir dan belajar. Termasuk lewat kisah-kisah inspiratif, setiap kita bisa belajar dan mengambil ilmu bagaimana berprilaku terbaik dalam kehidupan ini.

Dalam kehidupan ini keberadaan orang gentleman vs. orang picik ini selalu hadir dalam panggung hubungan antar manusia. Kuncinya ada dalam bagaimana kita menyikapinya. Inilah di balik tirai adab dan kesan. Gentleman, tenang dan damai. Orang picik selalu emosional.

Kisah Inspiratif

Kisah berikut ini, sedikit banyak memberi gambaran kedudukan antara orang gentleman vs. orang picik. Lewat kisah orang gentleman vs. orang picik ini, kita dapat mengambil pelajaran dalam mengarungi kehidupan yang memiliki intrik dan aneka perilaku kehidupan manusia ini. Berikut ini kisah selengkapnya:

Di tengah keramaian kota besar, terdapat dua sosok berbeda yang berhadapan dengan hidup.

Di satu sisi, John, seorang pria dengan setelan rapi dan senyum hangat yang selalu tersungging, merupakan contoh nyata seorang gentleman modern. Ia selalu siap membantu sesama, memberikan tempat duduk pada bus untuk lansia, dan selalu berbicara dengan sopan santun kepada siapa pun yang ia temui.

Keberadaannya menciptakan lingkungan yang hangat dan bersahaja di tengah hiruk-pikuk perkotaan.

Di sisi lain, ada Robert, seorang pria dengan genggaman kuat pada stereotip sosial dan pandangan sempit tentang nilai seseorang. Meski berpenampilan rapi dengan setelan mahalnya, sikap piciknya terpancar jelas ketika ia menilai orang berdasarkan penampilan fisik dan latar belakang ekonomi.

Baginya, keberhasilan diukur dari merek pakaian dan mobil yang dimiliki, tanpa ruang untuk memahami nilai sejati setiap individu.

Suatu hari, takdir membawa keduanya bertemu di sebuah acara amal. John, dengan kerendahan hatinya, merasa senang mengajak Robert berbincang. Melalui percakapan yang tulus, John membuka mata Robert akan keindahan dalam merangkul keberagaman dan memahami nilai-nilai sejati.

Secawan kopi di tangan mereka bukan hanya minuman, tapi simbol pemahaman bahwa menjadi seorang gentleman sejati tidak hanya terletak pada penampilan, tetapi juga dalam bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Lewat potret seorang gentleman dan orang picik, kita melihat ada sebuah adab dan kesan yang diperlihatkan. Itulah hikmah yang mesti kita ambil dan jadi pelajaran dalam kehidupan ini.

BACA JUGA:  Mengenal Ragam Bahasa Karangan Ilmiah

Terkait itu, saya mengajak Anda untuk menjelajahi keunikan dalam kedua sikap seorang gentleman vs. orang picik tersebut, dari sisi yang serius hingga sekadar guyonan yang menggelitik.

Orang Gentleman

Gentleman itu bukan hanya soal pakaian dan topi. Seorang gentleman bukanlah hanya tentang penampilan fisiknya atau topi mahal yang dia kenakan. Tidaklah cukup hanya tahu bagaimana menyebut minuman terbaik atau memiliki sepatu kulit mahal.

Seorang gentleman adalah individu yang membawa dirinya dengan martabat, memberikan perhatian pada orang di sekitarnya. Dan selalu berusaha untuk meninggalkan dunia tempat dia berada lebih baik dari sebelumnya.

Dia memberikan nilai pada kata-kata dan tindakannya. Ia, menciptakan ruang yang nyaman dan penuh penghargaan bagi semua orang di sekitarnya.

Apakah kita bisa melihat melampaui kemeja berkerah tinggi dan kacamata hitam untuk menggali karakter seseorang sebagai seorang gentleman?

Orang Picik

Inilah potret seorang anak manusia, saat sikap berselisih dengan gaya. Di sisi lain, ada fenomena yang tak kalah menarik, yakni orang picik.

Mereka yang bersikap picik mungkin tidak selalu memakai tutup kepala dengan monogram atau jas mahal, tetapi sikapnya yang menilai bisa menciptakan sebuah tembok tak terlihat.

Arda Dinata

*Arda Dinata, adalah Pendiri Majelis Inspirasi Al-Quran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia dan kolomnis tetap di Sanitarian Indonesia (http://insanitarian.com). Aktivitas hariannya sebagai peneliti, sanitarian, dan penanggungjawab Laboratorium Kesehatan Lingkungan, tinggal di Pangandaran.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!