Inspirasi

Koalisi Hati Sebagai Tunas Perdamaian

BERITA wafatnya Rasulullah Saw., menorehkan rasa kesedihan teramat berat bagi para sahabat, umat, dan keluarga tercinta. Atau siapa pun yang telah dengan setia dan sepenuh hati hidup bersamanya. Namun, apa yang dilakukan Umar bin Khatab berbeda dengan sahabat lainnya. Umar masih terus berbicara lantang pada orang-orang di sekitar masjid. “Barangsiapa mengatakan bahwa Nabi Muhammad telah mati akan berhadapan dengan pedangku ini! Rasulullah belum wafat! Ia sedang menghadap Allah, sebagaimana Nabi Musa selama empat puluh hari menemui Rabb-Nya!” teriaknya.

Oleh: Arda Dinata

Mendengar suara Umar tersebut, Abu Bakar keluar dari bilik Rasulullah Saw. Beliau berkata, “Tunggu sebentar, wahai Umar!” panggilnya dengan nada tinggi. Namun, Umar bin Khatab tidak menggubris teguran sahabatnya. Ia terus berbicara lantang.

Lalu, Abu Bakar mengumpulkan orang-orang dan dengan lantang berpidato, “Wahai sekalian manusia. Barangsiapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah hidup dan tidak mati.” Selanjutnya, Abu Bakar membaca firman Allah dalam QS. Ali Imran: 144, yang artinya: “Muhammad itu tidak lain hanya seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun.”

Pokoknya, tersebarnya berita kematian Rasulullah itu memang menggemparkan kaumnya. Kaum Anshar mendatangi Sa’ad bin Ubadah, berkumpul di Saqifah Bani Saidah. Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah di rumah Fathimah. Sementara itu, kaum Muhajirin berkumpul di sekeliling Abu Bakar dan bersama Usaid bin Hudhair di daerah perkampungan Bani Asyhal.

Pada waktu itulah, ada seseorang menemui Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Ia mengatakan, “Kaum Anshar telah berkumpul dengan Sa’ad bin Ubadah di Saqifah Bani Saidah. Bila engkau berkepentingan dengan urusan mereka, segera temuilah orang-orang itu sebelum semuanya menjadi kacau,” katanya. Sejurus kemudian, Umar berkata kepada Abu Bakar, “Mari kita temui saudara kita kaum Anshar, agar kita bisa melihat apa yang mereka lakukan.”

BACA JUGA:  Waktu Bergerak Dalam Diam

Ketika Abu Bakar dan Umar tiba di Saqifah Bani Saidah, sebenarnya orang-orang kaum Anshar ini sudah meminta agar kaum Anshar dan Muhajirin mengangkat pemimpinnya masing-masing. Namun akhirnya, kemelut siapa yang menjadi pemimpin di antara dua golongan itu bisa diatasi dengan baik, setelah kedatangan Umar dan Abu Bakar.

Gagasan adanya dua pemimpin itu ditolak. Umar maju memegang tangan Abu Bakar, lantas membaiatnya. Tidak lama kemudian, para sahabat yang hadir pada saat itu secara bergantian membaiatnya. Dan keesokan harinya, orang-orang hadir di Masjid Nabawi dalam baiat umum untuk menyatakan kepada pemimpin mereka yang baru itu.

* *

SEPENGGAL kisah di atas, sesungguhnya telah menuntun kita agar mampu membiasakan diri membangun koalisi hati di tengah-tengah keberagaman umat, lagi penuh aneka warna kehidupan. Seperti tergambar dari kesigapan para sahabat senior itu yang mampu menyatukan aneka kepentingan dari kaum Anshar dan Muhajirin. Dan bisa jadi bila tidak segera diambil keputusan, tentu akan timbul perpecahan yang mendera umat Islam saat itu. Dalam arti lain, kondisi keterpautan hati kedua kepentingan golongan itu, sesungguhnya merupakan sebuah gambaran obsesi kemuliaan dan bagaimana cara memperturutinya. Inilah sesungguhnya sebuah kejujuran akan kedamaian.

admin

www.ArdaDinata.com adalah blog catatan dari seorang penulis merdeka, Arda Dinata yang dikelola secara profesional oleh Arda Publishing House.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!