Catatan HarianInspirasiMotivasiOpiniRenungan Hikmah

Menerapkan Ikhsan dalam Kehidupan Keseharian

Menerapkan ikhsan dalam kehidupan keseharian, kita dapat mengikuti jejak teladan Rasulullah dan para pendahulu yang telah memberikan yang terbaik untuk kebaikan umat dan kemanusiaan.

Oleh: Arda Dinata

Pernah dengar, ada orang yang menyampaikan keinginannya seperti ini, “Saya ingin menggapai predikat ikhsan?” Atau pernyataan setipe dan mengandung kata ïkhsan” lainnya. Lalu, apa sebenarnya arti ikhsan itu? Dan bagaimana menerapkan ikhsan dalam kehidupan keseharian?

“Ikhsan” adalah istilah dalam bahasa Arab yang memiliki akar kata dari kata dasar “hasana” yang berarti kebaikan atau keindahan. Ikhsan mengandung makna memberikan yang terbaik atau melakukan sesuatu dengan penuh kebaikan dan keindahan, bahkan ketika tidak ada yang memperhatikan atau memberikan balasan.

Dalam konteks Islam, konsep ikhsan juga merupakan bagian penting dari nilai-nilai ajaran agama. Ikhsan mencakup tindakan melakukan kebajikan atau berbuat baik dengan memberikan yang terbaik, tidak hanya dalam aspek ibadah kepada Allah, tetapi juga dalam hubungan dengan sesama manusia.

Hadis yang terkenal menyebutkan konsep ikhsan adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ikhsan adalah beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka kita tahu bahwa Allah melihat kita.

Dengan kata lain, ikhsan bukan hanya tentang melakukan tugas atau ibadah secara mekanis, tetapi juga membawa perasaan kebaikan, keindahan, dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Ini melibatkan sikap rendah hati, ketulusan, dan pemberian yang tulus tanpa pamrih.

Saya, mencoba merangkai kata ikhsan itu dalam sebuah ungkapan berikut. “Ikhsan adalah memberikan yang terbaik, bahkan ketika tak ada yang melihat. Karena yang Maha Melihat adalah Allah. Bukanlah amal terbaik yang paling besar, tetapi amal terbaik adalah yang dilakukan dengan ikhlas dan tulus. Dalam setiap kebaikan yang kau lakukan, letakkan ikhsan di dalamnya, dan engkau akan merasakan keajaiban tak terduga. Berikan yang terbaik, bukan karena kau diharuskan, tetapi karena hatimu yang penuh cinta dan kesediaan untuk memberi.

Dalam konteks umum, ikhsan juga dapat mengacu pada usaha untuk memberikan kontribusi positif, memberikan pelayanan yang baik, dan melakukan segala sesuatu dengan penuh kebaikan, bahkan ketika tidak ada yang memperhatikan atau memberikan imbalan. Ikhsan adalah sikap yang mencerminkan kemurahan hati, tanggung jawab, dan keindahan dalam tindakan.

BACA JUGA:  Memakna Ucapan Minal 'Aidin wal Faizin

Kisah Inspiratif

Dalam kehidupan Rasulullah, Sahabat, Tabiin, hingga manusia kekinian, jejak ikhsan (memberikan yang terbaik) tetap membentang sebagai cahaya petunjuk yang memberikan inspirasi bagi generasi setelahnya.

Setiap tetes kebaikan yang kau curahkan adalah ladang ikhsan yang kau tanam di dunia dan akan kau tuai di akhirat. Ikhsan adalah cahaya yang kita pancarkan kepada dunia, mengubah kegelapan menjadi terang, satu tindakan baik pada satu waktu.

Jangan takut memberikan lebih, karena Allah tidak pernah membatasi keberkahan bagi mereka yang memberikan dengan ikhlas. Ikhsan adalah seni memberikan tanpa pamrih, mencintai tanpa syarat, dan berbakti tanpa mengharapkan balasan.

Ijinkan saya berbagi cerita yang mengandung makna arti dari kata ikhsan ini. Semoga cerita ini bisa menginspirasi bagi siapa pun yang membaca dan megambil pelajaran dari paparan cerita berikut.

Di sebuah desa kecil yang teduh, hiduplah seorang lelaki bernama Ilyas. Ilyas adalah seorang tukang kayu yang tekun dan tulus dalam pekerjaannya. Ia dikenal oleh seluruh desa sebagai sosok yang selalu melakukan pekerjaannya dengan penuh ikhsan, yaitu memberikan yang terbaik tanpa mengharapkan balasan.

Setiap kali Ilyas membuat sebuah mebel atau memperbaiki rumah warga desa, ia melakukannya dengan sepenuh hati. Ilyas tidak hanya memperhatikan kekuatan dan keindahan dalam hasil kerjanya, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap kebutuhan dan keinginan pemilik rumah.

Suatu hari, seorang tetua di desa tersebut membutuhkan bantuan untuk memperbaiki kursi kayunya yang sudah rapuh. Ilyas segera menjawab panggilan itu dengan senyum di wajahnya. Dengan penuh ikhsan, Ilyas tidak hanya memperbaiki kursi tersebut, tetapi juga menambahkan sentuhan kreatif yang membuatnya lebih kuat dan cantik.

Warga desa yang melihat kerja Ilyas memberikan pujian dan berterima kasih. Namun, Ilyas selalu menjawab dengan rendah hati, “Ini hanya usaha kecil saya. Saya senang bisa membantu.”

Suatu hari, Ilyas mendengar kabar bahwa ada seorang janda tua yang tinggal sendirian dan rumahnya butuh perbaikan. Meskipun Ilyas memiliki pekerjaan lain yang menumpuk, ia tidak ragu untuk memberikan bantuan. Ia memperbaiki atap bocor, memperbaiki pintu yang rusak, dan melengkapinya dengan beberapa perabotan agar rumahnya lebih nyaman.

Arda Dinata

*Arda Dinata, adalah Pendiri Majelis Inspirasi Al-Quran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia dan kolomnis tetap di Sanitarian Indonesia (http://insanitarian.com). Aktivitas hariannya sebagai peneliti, sanitarian, dan penanggungjawab Laboratorium Kesehatan Lingkungan, tinggal di Pangandaran.

Tinggalkan Balasan

A Group Member of:
Toko SosmedToko SosmedToko SosmedWWW.ARDADINATA.COMWWW.ARDADINATA.COMInSanitarianMIQRA INDONESIA


error: Content is protected !!