Inspirasi

Berternak (Atasi) Jentik Nyamuk

PENYAKIT yang ditularkan nyamuk masih terus terjadi di wilayah Indonesia, seperti filariasis (kaki gajah), malaria, chikungunya, dan DBD. Pada dasarnya penyebaran penyakit itu ditularkan melalui faktor host, agent, dan environment. Syaratnya ketiga komponen itu saling mendukung. Terkait dengan penyakit ditularkan oleh nyamuk, yang menjadi host (inang) adalah manusia dan nyamuk. Sebagai agentnya adalah parasit (malaria), cacing filaria (kaki gajah), dan virus (DBD/chikungunya).

Oleh: Arda Dinata

Agent tersebut hidup di dalam tubuh manusia dan nyamuk. Di sini, manusia sendiri sebagai host intermediate (inang sementara) dan nyamuk disebut host definitive (inang tetap). Sementara itu, faktor environment (lingkungan) adalah lingkungan di mana manusia dan nyamuk itu berada. Nyamuk ini dapat berkembangbiak dengan baik, bila lingkungannya sesuai dengan keadaan yang dibutuhkan nyamuk.

Kita tahu, memasuki musim hujan banyak air tergenang. Misalnya, kolam yang terbengkalai dapat ditumbuhi oleh tanaman air, selanjutnya akan menjadi sarang jentik nyamuk untuk berkembangbiak. Dengan mengenal hubungan faktor yang berperan dalam penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk tersebut, maka setidaknya kita dapat melakukan usaha pemutusan rantai penularnya secara lebih terarah. Pemutusan rantai penularan penyakit akibat nyamuk ini melalui tiga langkah.

Pertama, menyembuhkan orang yang diketahui positif terhadap penularan. Bila tidak ada orang yang sakit, maka tidak mungkin terjadi penularan penyakit walaupun terdapat vektor (nyamuk) penularnya. Kedua, menghilangkan atau membunuh vektor nyamuk penular. Sebab, bila tidak ada vektor, maka tidak mungkin terjadi penularan di daerah tersebut walaupun terdapat orang sakit. Ketiga, menghilangkan tempat-tempat perindukan nyamuk. Bila tidak ada tempat perindukan, maka nyamuk tidak bisa berkembangbiak sehingga nyamuk itu akan hilang atau berkurang kepadatannya.

BACA JUGA:  Upaya Menghilangkan Kesadahan Air

Atasi jentik nyamuk

Usaha pemberantasan nyamuk pada tempat perindukan dapat dilakukan melalui budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) dan mujair (Oreochromis mossambicus).

Ada beberapa alasan mengapa ikan nila dan mujair ini memiliki prospek yang positif dalam program pengendalian nyamuk (Anopheles dan Culex) di Indonesia. Yakni ikan-ikan tersebut dapat hidup di air tawar, payau, dan bahkan air laut. Bahkan, berbagai spesies nila mempunyai kemampuan memakan jentik nyamuk yang cukup tinggi, seperti kemampuan nila merah dalam mengendalikan populasi jentik nyamuk Anopheles di Sihepeng Tapanuli Selatan (Sugeng; 2003), serta ikan nila merah dan mujair di tambak udang Desa Sukaresik Kec. Pangandaran Kab. Ciamis (Depkes RI; 2002).

Apalagi menurut Lovell (1989), ikan nila dan mujair ini memiliki kebiasaan makan yang terus menerus. Jenis makanan yang disukai adalah plankton, fitoplankton (organisme pemakan tanaman yang melayang-layang di permukaan air), dan zooplankton (jasad renik).

admin

www.ArdaDinata.com adalah blog catatan dari seorang penulis merdeka, Arda Dinata yang dikelola secara profesional oleh Arda Publishing House.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!