Kenali Sejak Dini Penyebab Stunting - www.ArdaDinata.com
KesehatanKesehatan Lingkungan

Kenali Sejak Dini Penyebab Stunting

Kenali sejak dini penyebab stunting, sebab pertumbuhan anak menjadi penting. Kondisi tinggi badan ini sangat berkaitan dengan produktivitas. Kondisi kurangnya tinggi badan saat dewasa adalah akibat dari stunting masa kecil yang berhubungan dengan hilangnya produktivitas sebesar 1,4%. Lebih jauh, stunting ini juga menurunkan tingkat kecerdasan (IQ) seseorang dari 5-11 poin.

(World Bank)
Oleh: Arda Dinata

InSanitarian.com – Stunting ini merupakan kondisi akan gagalnya tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis yang membuat si anak tumbuh terlalu pendek untuk usianya. Tepatnya, kekurangan gizi itu terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir. Namun, baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun.

Parameter balita pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) ialah balita dengan panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku dari WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study) 2006.1 Sementara itu, definisi stunting versi dari Kementerian Kesehatan RI adalah kondisi anak balita dengan nilai z-score-nya kurang dari -2 SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari -3 SD (severely stunted).2

Stunting ini disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak semata-mata karena faktor gizi buruk yang dialami ibu hamil maupun anak balita. Bila kita cermati dari data Riskesdas tahun 2010, prevalensi balita pendek terus meningkat jelas pada kelompok umur 0-23 bulan. Dari angka 28,1% pada kelompok umur < 5 bulan, menjadi 32,1% pada kelompok umur 6-11 bulan, hingga menjadi 41,5% pada kelompok umur 12-23 bulan.3

Padahal, kita tahu kondisi tinggi badan ini sangat berkaitan dengan produktivitas. Kondisi kurangnya tinggi badan saat dewasa adalah akibat dari stunting masa kecil yang berhubungan dengan hilangnya produktivitas sebesar 1,4%. Lebih jauh, stunting ini juga menurunkan tingkat kecerdasan (IQ) seseorang dari 5-11 poin (World Bank).4, 5 Bahkan menurut Mendez, stunting yang terjadi pada usia terlalu dini cenderung membuat kondisi stunting lebih parah.6

BACA JUGA:  Bagaimana COVID-19 Membawa Kutukan dan Berkah Bagi Lingkungan?

Untuk itu, masa antara kehamilan/janin hingga dua tahun pertama kehidupan anak adalah masa kritis, disebabkan kebutuhan gizi pada kelompok ini paling tinggi padahal kelompok ini yang paling rawan memperoleh pola asuh yang salah, akses pelayanan kesehatan yang tidak cukup dan pola pemberian makan yang tidak tepat.

Jalan Keluar Atasi Stunting

Untuk mencari jalan keluar masalah stunting ini, paling tidak harus diketahui faktor-faktor determinan yang menyebabkan terjadinya stunting itu. Artinya kita harus kenali sejak dini penyebab stunting. Menurut Trihono, dkk. (2015), membagi pembahasan faktor determinan penyebab stunting ini dalam beberapa bagian.2

Pertama, penyebab pendek pada bayi. Berdasarkan studi kohor tumbuh kembang anak Balitbangkes, ada faktor yang mempengaruhi panjang lahir bayi, yaitu: tinggi badan ibu < 150 cm (RR=3,7); IMT ibu pra hamil < 18,5 (RR=3,1); umur ibu < 20 tahun dan  > 35 tahun (RR=1,1); paritas < 2 kali (RR=1,2); pertambahan berat badan hamil < 9,1 kg (RR=2,3); dan konsumsi protein < 100 AKG (RR=2,2).

Lebih jauh, disebutkan faktor ibu selama masa kehamilan dan sebelum hamil ikut menentukan panjang lahir bayi. Begitupun pertambahan berat badan selama kehamilan berpengaruh pada panjang lahir bayi. Bila kita runut ke belakang, bayi dengan panjang lahir pendek mempunyai riwayat pertambahan berat badan selama kehamilan yang di bawah standar dibandingkan bayi-bayi yang lahir dengan panjang lahir normal.

Salah satu faktor penting lainnya dalam kehamilan adalah asupan makanan selama ibu hamil, baik kalori, protein maupun mikronutrien. Untuk asupan kalori selama kehamilan, ternyata banyak ibu hamil yang konsumsi energinya, 100% AKG (Angka Kecukupan Gizi). Fakta Studi Kohor Tumbuh Kembang Anak (Balitbangkes; 2013) memperlihatkan untuk ibu hamil yang berusia < 20 tahun menunjukkan yang cukup asupan gizinya semakin menurun dari trisemester 1 (87,5%), trisemester 2 (51,8%), dan trisemester 3 (47,5%).

BACA JUGA:  Apa Itu Soal Tes Seleksi Kompetensi Bidang (SKB)?

Jadi, pada kelompok muda ini yang harus jadi perhatian, sebab selain mereka masih belum siap untuk hamil, pertumbuhan janin juga akan terganggu. Untuk itu, harus ada sistem yang membuat remaja baru menikah setelah masa pertumbuhan berhenti, yaitu dengan cara: meningkatkan wajib belajar 9 tahun menjadi 12 tahun; revisi UU Perkawinan untuk usia nikah bagi wanita dari 16 tahun menjadi 20 tahun; meningkatkan kesehatan reproduksi remaja; program perbaikan gizi di sekolah; dan menjadikan UKS pusat upaya kesehatan wajib puskesmas dengan cakupan seluruh sekolah (SD, SMP, SMA).   

Kedua, penyebab pendek pada balita. Pertumbuhan pada balita sangat tergantung pada ibu/keluarga. Jadi, kondisi keluarga dan lingkungan yang mempengaruhi keluarga akan berdampak pada status gizinya. Pengurangan status gizi terjadi karena asupan gizi yang kurang dan sering terjadinya infeksi.

Di sini, keberadaan faktor lingkungan, keadaan dan perilaku keluarga yang mempengaruhi infeksi berpengaruh pada status gizi balita. Untuk kecukupan energi dan protein per hari per kapita anak Indonesia terlihat sangat kurang jika dibandingkan angka kecukupan gizi. Begitu juga pengaruh orangtua merokok membedakan besarnya masalah stunting sampai lebih dari dua kali lipat. Artinya, terlihat jelas faktor kemiskinan sangat berpegaruh pada angka prevalensi stunting dan angka ini diperburuk dengan orangtua yang merokok. Secara keseluruhan, orangtua merokok menyebabkan penambahan sekitar 16 persen kejadian anak pendek dibanding orangtua tidak merokok.7

Ketiga, penyebab pendek pada usia sekolah. Faktor penyebab menurunnya status gizi adalah adanya penyakit yang diderita, termasuk untuk kelompok usia sekolah. Fakta data Riskesdas 2013 menunjukkan proporsi penduduk 5-18 tahun yang menderita sakit sebulan yang lalu, berkisar antara 11,5% sampai 32,2%.8

Dari analisis lanjut terkait lama hari sakit untuk kelompok usia sekolah (5-18 tahun), tampak bahwa sekitar 15-30 persen anak usia sekolah menderita sakit dengan lama sakit sekitar 4 hari. Dan proporsi sakit makin menurun seiring meningkatnya umur yang bersangkutan.

BACA JUGA:  KEPEMIMPINAN & KOMUNIKASI DALAM MANAJEMEN PROYEK

Penyakit yang sering diderita pada usia sekolah ini meliputi diare dan ISPA. Kondisi ini diperparah oleh angka kecukupan gizi yang kecil. Gambaran kecukupan gizi dari data Riskesdas 2013, tanpak bahwa mendekati usia remaja, persentase angka kecukupan gizi makin kecil, padahal remaja adalah calon ibu yang seharusnya memiliki status gizi dan kesehatan yang adekuat.8 Tapi kenyataannya, asupan zat gizi pada kelompok usia sekolah ternyata di bawah angka kecukupan gizi.

Itulah ketiga hal yang perlu kita tahu. Jadi, kita harus kenali sejak dini penyebab stunting. Sebab, pertumbuhan anak itu menjadi hal penting dalam kehidupan manusia. Semoga informasi ini bermanfaat dan sukses selalu.***

PERAN KESEHATAN LINGKUNGAN ATASI STUNTING

Arda Dinata

*Arda Dinata, adalah Pendiri Majelis Inspirasi Al-Quran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia dan kolomnis tetap di Sanitarian Indonesia (http://insanitarian.com). Aktivitas hariannya sebagai peneliti, sanitarian, dan penanggungjawab Laboratorium Kesehatan Lingkungan, tinggal di Pangandaran.

3 komentar pada “Kenali Sejak Dini Penyebab Stunting

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!