Inspirasi

Cara Menyampaikan Kebenaran

PRIHATIN, begitulah kondisi sebagian masyarakat sekarang. Tak ada lagi sikap santun. Moral dan akhlak dianggapnya hanya layak untuk bumbu pidato dan basa-basi pergaulan hidup. Begitu pula seruan agar supermasi hukum ditegakkan seolah hanya sedap didengar di seminar dan obrolan warung kopi. Law enforcement hanya kata-kata indah untuk menghiasi buku-buku, kenyataan di lapangan, hukum amburadul yang ada “peradilan jalanan.”

Oleh: Arda Dinata

Berbicara tentang korban dari adanya peradilan jalanan. Korbannya, tidak hanya pencuri, penjambret, penodong dan orang-orang yang dianggap dukun santet saja, melainkan juga aparat kepolisian. Di Majalengka misalnya, tepatnya di Desa Sidangpanji, Kecamatan Cikijing Kabupaten Majalengka belum lama ini, dua anggota Polres Kuningan tewas dikeroyok massa, seorang di antaranya dibakar hidup-hidup. Naudzubillah.

Sungguh benar-benar memprihatinkan kondisi masyarakat demikian. Di manakah diletakkannya kesadaran moral dan etika komunikasi dalam hidup bermasyarakat kita? Kejadian tersebut, setidaknya harus dapat menyadarkan kita akan kualitas komunikasi yang kita miliki. Karena, bisa jadi hal itu merupakan ikon yang menggambarkan kondisi kualitas komunikasi dari masyarakat kita.

Bagi umat Islam sendiri, komunikasi tidak lain merupakan sarana penyampaian pesan-pesan yang dilihat dari kaca mata Islam haruslah berdasarkan pada Alquran dan As-Sunah. Artinya, Islam jauh-jauh hari memandang begitu penting keberadaan komunikasi dalam masyarakat (baca: sebagai dakwah Islam). Sehingga, kejadian-kejadian pengadilan jalanan seperti itu tidak akan terjadi, bila masyarakat menggunakan etika komunikasi Islam secara baik dan benar.

Ada beberapa landasan akan pentingnya komunikasi bagi umat Islam dan adanya nilai-nilai Islam dalam komunikasi. Pertama, tugas setiap insan untuk menjadikan setiap perbuatan kita semata-mata sebagai ibadah kepada Allah SWT. Allah berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).

BACA JUGA:  Biasa Ala Orang yang Bergelar

Kedua, komunikasi dilakukan sebagai amal saleh dalam rangka saling mengenal satu dengan lainnya. Dalam QS. Al-Hujurat: 13, Allah menginformasikan, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal ….”

Ketiga, komunikasi semata-mata dilakukan untuk amar ma’ruf nahi mungkar. Allah berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Secara demikian, komunikasi Islami tidak lain merupakan proses komunikasi yang bersendikan ajaran Islam, yaitu ukhuwwah Islamiyah. Atau dapat dikatakan bahwa prinsip dasar dari ajaran komunikasi Islam itu ialah regulasi komunikasi antara sesama manusia (hablum minannas) dan komunikasi dengan Allah (hablum minallah).

Keberhasilan komunikasi ini, tidak saja terletak pada pesan yang disampaikan, tetapi juga bagaimana cara pengemasan dan penyampaiannya. Karena suatu pesan yang benar jika tidak dikemas dengan benar akan membuahkan hasil yang tidak baik. Dalam Islam, kita diperintahkan untuk menyampaikan yang benar dengan cara yang benar. Hal ini, telah diseru oleh Allah dalam QS. An-Nahl: 125, yang artinya: “Serulah manusia kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan mau’izhah dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”

Untuk itu, agar pesan dan tujuan komunikasi yang kita inginkan tersebut dapat tercapai, maka ada beberapa hal yang seharusnya diperhatikan dalam berkomunikasi (baca: etika komunikasi dalam Islam). (1) Berkomunikasi dengan jujur. Menurut Jum’ah Abdul Aziz (1996; 88), jujur merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk memelihara tutur katanya. Ia tidak berbicara kecuali dengan jujur dan kesempurnaan. Kejujuran merupakan modal hidup yang dapat membimbing kita dalam mengerjakan.segala sesuatu dalam kehidupan ini.

BACA JUGA:  Biasa Ala Orang yang Berharta

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu mengantarkan kepada kebajikan, dan kebajikan itu mengantarkan ke surga. Seseorang bersikap jujur sehingga Allah menetapkannya sebagai orang jujur. Sesungguhnya dusta mengantarkan kepada perbuatan dosa dan dosa itu mengantarkannya ke neraka. Seseorang bersikap dusta sehingga Allah menetapkannya sebagai pendusta.” (HR. Bukhari-Muslim).

admin

www.ArdaDinata.com adalah blog catatan dari seorang penulis merdeka, Arda Dinata yang dikelola secara profesional oleh Arda Publishing House.

Tinggalkan Balasan

A Group Member of:
Toko SosmedToko SosmedToko SosmedWWW.ARDADINATA.COMWWW.ARDADINATA.COMInSanitarianMIQRA INDONESIA


error: Content is protected !!