Inspirasi

Go Green Agroperhutanan: Menjanjikan Kerimbunan Vegetasi*)

Mungkin Anda pernah melintasi atau berjalan-jalan saat liburan di wilayah pedesaan. Di sana kita bisa menikmati pemandangan rimbunnya dedaunan yang menghijau di sekeliling pemukiman. Sejauh mata memandang, kita akan menyaksikan pemandangan indah menawan. Kondisi seperti ini, tentu sangat susah kita temui di daerah perkotaan.

Oleh: Arda Dinata

Pemandangan rimbunnya vegetasi menghijau semacam itu, tidak lain terbentuk oleh tajuk pepohonan yang memenuhi tata guna lahan. Bisa lahan pertanian, pekarangan, kebun, atau talun-kebun. Sehingga, bila dilihat dari kejauhan, kondisi tersebut seperti hutan alami. Dan tata guna lahan tradisional yang membentuk hutan buatan ini, dikalangan para ahli pertanian menggolongkannya ke dalam istilah sistem agroperhutanan tradisional.
Istilah lain yang digunakan berkait agroperhutanan adalah wanatani, agroforestry.

Menurut Whitten, dkk., dalam Ekologi Jawa dan Bali, agroperhutanan diartikan sebagai sistem tata guna lahan yang sesuai dengan praktek-praktek budaya dan kondisi lingkungan setempat, yang tanaman semusim atau tahunan dapat dibudidayakan secara bersama-sama atau rotasi, bahkan kadang-kadang dalam beberapa lapisan sehingga memungkinkan produksi yang dilakukan terus menerus karena pengaruh peningkatan kondisi tanah dan iklim mikro yang tersedia di hutan. Sistem ini juga mencakup peternakan.

Keberadaan agroperhutanan ini, sebenarnya dalam tatanan budaya daerah di Indonesia secara nyata telah dipraktekkan jauh-jauh hari oleh masyarakat. Namun, keberadaan pola ini ada yang telah dirubah oleh orang-orang yang hanya berpikir pendek (sesaat). Padahal, kalau kita berpikir bijaksana, keberadaan sistem agroperhutanan tradisional itu dapat beradaptasi terhadap perubahan biofisik dan sosial-ekonomi masyarakat.

Bukti adanya pola agroperhutanan di masyarakat, dapat kita lihat dari tradisi yang pernah dilakukan selama ini. Misalnya, di pulau Jawa, kita mengenal bermacam-macam sistem agroperhutanan, antara lain: sistem pekarangan dan talun-kebun di Jawa Barat; penanaman buah-buahan di lahan ladang (di Jawa Barat dikenal dengan sebutan huma); sistem mixed gardening (kebun campuran) —masyarakat Purworejo, Jawa Tengah disebut krakal, dan kebun di Malang, Jawa Timur—.

BACA JUGA:  Sinergikan Keragaman Agar Kebahagiaan Tidak Layu

Untuk daerah lain, dikenal pula dengan sistem, seperti: kebun campuran yang disebut dusun di Ambon dan Seram, mamar di Timor, serta porlak di Batak; penanaman kopi di lahan ladang di Sulawesi; penanaman kopi dan damar yang dikombinasikan di lahan ladang di Sumatera; penanaman rotan di bekas ladang di Kalimantan Timur; penanaman karet dan lada di bekas ladang di Kalimantan.

Yang penting diperhatikan dalam pengelolaan sistem agroperhutanan tradisional adalah harus melakukan pendekatan ekosistem atau holistik. Yakni pendekatan yang memandang bahwa unsur-unsur dalam lingkungan tidak berdiri sendiri. Tapi, ia merupakan satu kesatuan integrasi yang terjadi dalam sistem. Artinya akan terjadi interaksi yang nyata/erat antara sistem biofisik dengan sistem sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.

admin

www.ArdaDinata.com adalah blog catatan dari seorang penulis merdeka, Arda Dinata yang dikelola secara profesional oleh Arda Publishing House.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!