Manisnya Nilai Iman
- Melakukan tafakur alam. Allah berfirman dalam surat Ali Imran: 190-191, yang artinya: “Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk dan waktu berbaring; dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi, (sambil berkata): Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia), Mahasuci Engkau, maka peliharakanlah kami dari siksa neraka.” Kalau kita perhatikan, ternyata ayat tersebut diakhiri dengan doa untuk kemenagan iman, mengalahkan kekafiran, dan diakhiri pula dengan ramalan tentang kemenangan akhir.
Di sini dinyatakan pula bahwa kaum mukmin bukanlah orang pertapa yang menyingkir ke tempat sunyi untuk berdzikir kepada Allah, dan bukan pula orang yang hanya berusaha menaklukan alam, tanpa berpikir tentang Tuhan dan Penciptaan alam semesta. Sebaliknya, kaum mukmin dilukiskan sebagai orang yang mengingat-ingat Allah di tengah-tengah kesibukan mereka dalam urusan duniawi —sambil berdiri, duduk dan berbaring—.
Dengan demikian, mereka menyadari sepenuhnya akan adanya Tuhan dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebaliknya, mereka berusaha menaklukkan alam dengan sepenuh kesadaran bahwa tak ada barang yang diciptakan itu terdapat tujuan-tujuan tertentu. Itulah tujuan utama yang digariskan oleh Islam bagi para pengikutnya, yaitu menaklukan diri sendiri dengan jalan berdzikir kepada Allah, dan menaklukan alam dengan jalan menuntut ilmu pengetahuan (Muhammad Ali: 1995). Melalui usaha ini, jelas-jelas akan meningkatkan keimanan bagi mereka yang melakukannya.
- Melakukan amal shalih. Ada tidaknya atau tinggi rendahnya iman seseorang akan dapat dilihat dari perilakunya. Artinya perilaku seseorang akan menunjukkan tingkat imannya. Dalam hal ini, perilaku yang dapat membangkitkan nilai keimanan adalah berupa memperbanyak amal shalih. Secara demikian, orang yang mengerjakan amal shalih adalah orang beriman yang mengaktualisasikan keimananya berupa amal perbuatan yang jelas-jelas dilandasi iman.
Iman dan amal perbuatan itu, tidak bisa dipisahkan. Sebab, iman menuntut adanya amal dan amal merupakan konsekuensi mutlak dari sebuah keimanan. Sebaliknya amal menuntut adanya iman, karena amal perbuat tanpa dilandasi keimanan kepada Allah adalah sia-sia belaka (tidak berguna). Oleh karena itu, besar kecilnya kadar keimanan seseorang akan banyak ditentukan oleh jenis, kualitas dan kontinuitas amal yang dilakukannya.
- Melakukan proteksi terhadap perbuatan dosa. Untuk menjadikan hati bening berisi keimanan, maka lakukanlah perbuatan-perbuatan yang terhindar dari perilaku maksiat atau mendatangkan dosa. Hal ini didasarkan bahwa perbuatan dosa itu bisa menyebabkan hati kita menjadi kotor. Kondisi hati yang kotor, tentu dapat menyebabkan tertutupnya iman dan bahkan akan menenggelamkan keimanan seseorang.
Aktivitas membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti itu benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.
Akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberi ilmu dan kemampuan usaha berbuat Tajdidul Iman (memperbaharui keimanan)pada setiap saat. Sehingga diharapkan aktivitas ini akan meningkatkan iman kita menuju terwujudnya iman sejati yang sesuai dengan harapan-Nya. Amin. Wallahu a’lam.***
Bagaimana menurut Anda?
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.