Inspirasi

Pokok-Pokok dalam Mendidik Anak

Sesungguhnya anak kecil itu merupakan amanat bagi setiap orangtuanya. Hatinya masih suci bersih dan kosong. Jika dibiasakan dan diajari kebajikan, ia akan tumbuh pada kebajikan dan berbahagia di dunia maupun di akhirat. Nabi SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang membuatnya beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Baihaqi, Ath-Thabarani).

Oleh: Arda Dinata

Untuk memudahkan pemahaman dalam proses mendidik anak, para ulama sepakat bahwa kehidupan seseorang itu dibagai beberapa fase. Mulai fase persiapan (usia sejak lahir sampai 2 tahun), fase permulaan anak-anak (2-6 tahun), fase paripurna anak-anak (6-12 tahun), fase permulaan remaja (12-15 tahun), fase pertengahan remaja (15-18 tahun), fase paripurna remaja (18-22 tahun), fase kematangan dan pemuda (22-30 tahun), fase pertengahan usia atau kejantanan (30-60 tahun), dan fase lanjut usia (dari 60 tahun ke atas).

Dalam kenyataanya, fase anak-anak dan remaja merupakan fase paling penting dalam bidang pembentukan dan pembinaan kepribadian seorang anak. Apabila seorang anak berhasil melewati fase ini dengan baik. Itu artinya ia akan hidup dengan jiwa yang sehat dan kepribadian ideal. Sebaliknya, bila tidak berhasil melewatinya, ia akan menemukan berbagai macam kesulitan dalam pembentukan jiwa, sikap dan perilaku sosial di masa yang akan datang. Hal ini didasari karena seorang anak pada usia pertama dalam hidupnya, akan banyak belajar dari pengalaman-pengalaman yang dapat membantunya berkembang secara sehat. Bila pada fase ini, seorang anak hidup dalam iklim keluarga yang tenang, penuh cinta, kasih dan sayang. Ia tentu sanggup berkembang secara sehat. Sehingga dapat beradaptasi dengan dirinya sendiri dan masyarakatnya.

Lebih jauh, keluarga yang dipenuhi rasa kasih dan sayang dan rasa saling pengertian atas dasar kepercayaan, menghormati, menghargai, cinta dan menjaga keseimbangan antara kebebasan dan pembatasan (baca: konsensus bersama antar anggota keluarga), adalah keluarga yang berhasil menampilkan sosok yang matang. Sebaliknya, keluarga yang menanamkan kebencian, kedengkian, ketakutan dan dendam pada jiwa anak-anak, adalah keluarga yang menampilkan sosok yang menyimpang, kontroversial, lemah dan bermasalah. Jadi, prinsip dasar seperti itulah yang seharusnya melekat dalam mendidik anak. Orangtua hendaknya senantiasa membingkai setiap tindakan dan perilakunya dalam oase kasih sayang. Inilah harga mahal dari proses mendidik anak.

BACA JUGA:  Alquran Menjawab Keluhan Anda

Menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan, secara hirarkis pokok-pokok dalam mendidik anak secara Islam itu meliputi tujuh tahapan tanggung jawab yang harus dilakukan orangtua dan pendidik, yaitu:

Pertama, tanggung jawab pendidikan iman.

Di dalamnya menyangkut tentang membuka kehidupan anak dengan kalimat Laa Ilaaha Illallaah; mengenalkan hukum halal dan haram kepada anak sejak dini; menyuruh anak untuk beribadah ketika telah memasuki usia tujuh tahun; dan mendidik anak untuk mencintai Rasul, keluarganya serta membaca Alquran.

Kedua, tanggung jawab pendidikan moral.

Jika sejak masa kanak-kanak, ia tumbuh dan berkembang dengan berpijak pada landasan iman kepada Allah dan terdidik untuk selalu takut, ingat, pasrah, meminta pertolongan dan berserah diri kepada-Nya, ia akan memiliki kemampun dan bekal pengetahuan di dalam menerima setiap keutamaan dan kemuliaan, di samping terbiasa dengan akhlak mulia. Sehingga dari sini, anak akan terhindar dari jeratan perilaku suka berbohong, suka mencuri, suka mencela dan mencemooh, serta terhindar dari kenakalan dan penyimpangan yang dilarang agama.

Ketiga, tanggung jawab pendidikan fisik.

admin

www.ArdaDinata.com adalah blog catatan dari seorang penulis merdeka, Arda Dinata yang dikelola secara profesional oleh Arda Publishing House.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!