Inspirasi

Waspadai Penyakit Menular Melalui Air

AIR bersih merupakan salah satu sumber kehidupan mahluk hidup, termasuk manusia. Konsekuensinya, bila air yang kita konsumsi telah tercemar maka kehidupan manusia akan terganggu. Kondisi demikian akan menjadi ancaman kesehatan manusia, bila tidak segera dipulihkan. Apalagi saat ini kondisi lingkungan kita telah memasuki musim hujan, yang biasanya mudah sekali terjadi pencemaran air di sana-sini, seperti banjir.

Oleh: Arda Dinata

Lebih jauh, air yang telah tercemar, baik oleh senyawa organik maupun anorganik akan menjadi media yang cocok untuk berkembangbiak berbagai penyakit. Air yang tercemar dapat berupa air yang tergenang dan air yang mengalir. Menurut Wisnu Arya Wardana (1999), penyakit menular akibat pencemaran air itu dapat terjadi karena berbagai macam sebab. Pertama, air merupakan tempat berkembangbiaknya mikroorganisme, termasuk mikroba patogen. Kedua, air yang telah tercemar tidak dapat digunakan sebagai air pembersih, sedangkan air bersih sudah tidak mencukupi sehingga kebersihan manusia dan lingkungannya tidak terjamin, yang pada akhirnya menyebabkan manusia mudah terserang penyakit.

Berikut ini beberapa macam penyakit menular melalui air.

1. Kolera.

Penyakit kolera adalah penyakit menular yang menyerang usus halus. Penyakit ini dapat mengakibatkan kematian dalam waktu singkat. Keberadaannya akan menjadi wabah apabila tidak segera ditangani secara serius. Buktinya, sebelum ditemukannya antibiotik, angka kematian akibat kolera mencapai 50 persen.

Masa inkubasi penyakit kolera sangat cepat. Dari hanya beberapa jam sampai beberapa hari setelah penderita terinfeksi oleh bakteri kolera. Penderita kolera ditandai dengan muntah-muntah dan berak terus menerus (muntaber) yang menyebabkan dehidrasi parah, sehingga penderita menjadi kolaps dan akhirnya meninggal.

Walaupun telah ditemukan vaksinasi untuk pencegahan penyakit kolera dan antibiotik untuk penyembuhannya, namun penyakit ini masih sering menjadi wabah di beberapa daerah. Hal ini disebabkan masih rendahnya kesadaran akan pentingnya arti kebersihan lingkungan, vaksinasi, dan kebutuhan gizi yang baik. Penularan penyakit kolera ini, bisa terjadi secara langsung melalui orang ke orang, dapat pula melalui lalat, air, makanan, dan minuman.

BACA JUGA:  Nilai Kemabruran Haji

2. Disenteri Amoeba.

Penyakit disenteri amoeba merupakan jenis penyakit menular yang menyerang perut. Penyakit ini tersebar ke seluruh dunia. Penyebab penyakit ini bukan karena bakteri maupun virus, namun disebabkan oleh protozoa yang dapat membentuk kista. Mikroba patogen jenis protozoa ini disebut Entamoeba histolitica.

Orang yang terkena disenteri amoeba memprlihatkan gejala berupa buang air besar yang disertai dengan lendir dan darah. Penderita penyakit ini tidak mengalami dehidrasi, kecuali pada disentri basilaris. Walau demikian, ada kalanya penyakit disentri amoeba ini tidak disertai dengan gejala yang nyata sehingga seringkali menjadi kronis. Bila penderita penyakit ini tidak segera diobati, maka akan menyebabkan komplikasi, antara lain terjadi abses pada hati, radang otak, dll.

Penyebaran penyakit ini, sangat mudah. Dapat melalui jalur air (seperti pada saat banjir), makanan dan minuman yang telah terkontaminasi/terkotori oleh kotoran yang berisi kista amoeba yang dibawa lalat. Bahayanya, keberadaan amoeba ini dapat bertahan lama di luar tubuh manusia. Sebab terbentuknya kista tersebut dapat melindungi dirinya (baca: memiliki daya tahan kuat sekali).

3. Tiphus Abdominalis.

Penyakit tiphus merupakan penyakit menular yang menyerang usus halus seperti halnya kolera. Namun, angka kematian akibat penyakit ini masih lebih rendah dari angka kematian akibat kolera. Upaya pemberantasan penyakit tiphus ini, seringkali dihadapkan pada persoalan adanya pembawa penyakit (baca: carier) bakteri tiphus. Bakteri ini untuk sementara waktu bersembunyi pada batu ginjal, kandung kemih atau pada kandung empedu.

Proses penyebarannya ialah, bisa melalui bau pada waktu buang air besar atau buang air kecil, bakteri tersebut mungkin akan ikut keluar dan menyebar ke lingkungan. Sehingga patut kita ingat, bahwa keberadaan bakteri tiphus ini dapat bertahan lama di luar tubuh manusia karena daya tahan bakteri ini sangat kuat. Pencegahannya, lakukanlah vaksinasi manakala terjadi wabah.

BACA JUGA:  Elemen Fungsional Sistem Pengelolaan Sampah

4. Penyakit Cacingan (Ascariasis).

Ascariasis ini dapat terjadi karena keadaan sanitasi lingkungan yang kotor dan tercemar. Penyakit cacingan ini menyerang tidak mengenal usia. Mulai anak-anak, orang dewasa, dan orang tua memiliki peluang yang sama terserang penyakit ini. Namun, kasus terjadinya penyakit cacingan ini lebih sering diderita anak-anak. Sebab mereka lebih sering bermain dengan tanah dan sulit menjaga kebersihan dirinya.

Penyakit cacingan mudah sekali menular. Sebab sekira 200.000 butir telur yang dikeluarkan oleh cacing betinanya itu akan ikut keluar dari usus pengindap penyakit cacingan bersama tinjanya.

Manusia yang terinfeksi cacing ini disebabkan tertular telur cacing yang terdapat pada minuman atau makanan, sayuran, dan buah-buahan yang telah terkontaminasi telur cacing ascaris. Selanjutnya, telur yang sampai di usus akan menetas dan menjadi larva yang akan menembus dinding perut dan masuk ke pembuluh darah. Melalui pembuluh darah ini, larva akan menuju ke hati. Kemudian ke dinding jantung kanan terus ke paru-paru. Dari paru-paru, larva cacing masuk ke saluran pernafasan terus ke tenggorokan. Dan akhirnya kembali ke rongga perut (usus) sampai menjadi dewasa serta berkembangbiak.

admin

www.ArdaDinata.com adalah blog catatan dari seorang penulis merdeka, Arda Dinata yang dikelola secara profesional oleh Arda Publishing House.

Tinggalkan Balasan

A Group Member of:
Toko SosmedToko SosmedToko SosmedWWW.ARDADINATA.COMWWW.ARDADINATA.COMInSanitarianMIQRA INDONESIA


error: Content is protected !!