Inspirasi

Kasih Sayang Sebagai Rahim Manusia Beradab

* *

KASIH sayang, kata yang enak didengar, indah dan suci. Adanya didambakan oleh setiap orang. Kasih sayang merupakan rahim manusia beradab yang menentramkan. Kata rahim berasal dari akar yang sama dengan belai kasih, rasa sayang, rasa kasihan, kecenderungan untuk menahan, dan kecenderungan untuk membantu seseorang. Sifat rahmah juga merupakan sifat yang alamiah melekat pada diri seorang ibu (baca: sang pemilik rahim). Karena sifat rahmah sudah berpotensi melekat, menurut Miranda Risang Ayu, adalah tugas ilahiah seorang ibu yang wajar untuk menjadikan dirinya sumber kasih sayang yang menghidupkan bayinya, seperti halnya Allah menjadi sumber sifat kasih sayang yang sempurna bagi alam semesta beserta isinya.

Keberadaan kasih sayang ini tidak akan lahir, bila kita tidak melahirkannya. Yang jelas kasih sayang membutuhkan keterbukaan, pengertian, “pengorbanan”, tanggung jawab, perhatian, dan lainnya. Dalam sekala keluarga misalnya, seorang anak terlahir dan terbentuk pada prinsipnya merupakan hasil curahan kasih sayang dari orangtuanya.

Miranda mengungkapkan, pada puncak kesadaran spiritual manusia, perempuan sesungguhnya adalah wajah peradaban. Pada peradaban (sang feminim), manusia adalah subjek aktif yang memproduksi nilai, membangun relasi organis, dan akhirnya, berpartisipasi dalam penciptaan struktur sosial. Sebaliknya, lelaki adalah wajah alam semesta. Pada alam semesta (sang maskulin), manusia adalah subjek yang secara sadar submisif terhadapnya, karena ia bergantung, dihidupi, dilindungi, dan disantuni. Kelangsungan habitatanya sebagai manusia pun amat bergantung pada kemurahan alam semesta.

Di sini, hukum perjalanan telah membuktikan bahwa peradaban yang tidak mengindahkan alam semesta adalah peradaban yang ingkar pada asalnya, dan menuju kepada kehancuran makna kehadirannya. Sementara alam semesta tanpa peradaban adalah stangnasi. Alam semesta tanpa peradaban tidak pernah ada. Ini adalah kehancuran maknawi yang sesungguhnya.

BACA JUGA:  Membeli (Kemenangan) Surga

Sebaliknya, interaksi antara peradaban dan alam semesta yang bersifat posesif dan eksploitatif juga akan saling menghancurkan. Interaksi semacam itu akan menimbulkan kemarahan reaktif peradaban sekaligus kemarahan reaktif alam semesta. Kemarahan reaktif peradaban akan berupa tertawa tergelak di atas kerusakan dan ketidakseimbangan alam sampai napas manusianya putus di langit makna. Sementara kemarahan reaktif alam semesta berwujud bencana alam, kelangkaan sumber daya, dan guncangan regresif lain, menghancurkan peradaban manusia dalam diri semesta itu sendiri.

Untuk itu, patut dicatat apa yang diungkapkan W. Somerset Maugham bahwa “tragedi hidup yang terbesar adalah bukan binasanya manusia, melainkan hilangnya rasa cinta dalam diri manusia.” Yakni cinta yang dilandasi rasa kasih sayang. Dan kita tahu, cinta itu dapat langgeng manakala ia menyelimuti dirinya dengan pondasi kasih sayang yang ikhlas.

Jadi, kasih sayang yang benar-benar tulus, tidak dengan kesombongan, tentu akan melahirkan manusia beradab, yang benar-benar punya nilai bagi siapa pun. Karena ia dibangun bukan dengan kekerasan, nafsu keegoan dan berniat mengorbankan siapa pun. Sehingga pantas saja, seorang yang bijak pernah berkata “Tidak ada nilai apa pun yang lebih besar daripada nilai setiap manusia, sehingga demi nilai itu kita tak berhak untuk mengorbankan seorang manusia pun.” Inilah, barangkali makna kasih sayang sebagai rahim manusia beradab. Wallahu’alam.

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

admin

www.ArdaDinata.com adalah blog catatan dari seorang penulis merdeka, Arda Dinata yang dikelola secara profesional oleh Arda Publishing House.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!